#Artikel

#

Isra Mi’raj dan Pesan Ekologis Ibadah Salat

Parid Ridwanuddin

 

Peringatan Isra dan Mi’raj yang dilaksanan pada tanggal 27 Rajab 1442 atau bertepatan dengan tanggal 11 Maret 2021 lalu memiliki makna yang sangat dalam. Ibadah salat sebagai buah dari perjalanan Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad saw., mengandung pesan ekologis yang relevan dengan beragam krisis lingkungan hidup yang terus terjadi, baik dalam skala nasional maupun global.  

Salat merupakan salah satu ibadah ritual yang sangat penting di dalam ajaran Islam. Kitab suci Alquran menyebut kata salat (Arab: shalat) sebanyak 83 kali. Sementara itu, kata-kata yang diderivasi dari kata shalat disebutkan sebanyak 124 kali. Secara kebahasaan, salat memiliki sejumlah makna, diantaranya “berdoa” dan “hubungan”. Makna etimologis “hubungan” yang terkandung dalam kata salat terambil dari kata shilat atau shilah yang memiliki akar kata yang sama dengan shalat, yaitu shad-lam-waw.

Kata shilat atau shilah mengingatkan kita pada istilah silaturahmi dalam bahasa Indonesia, yang diambil dari bahasa Arab shilaturahmi. Maknanya, menghubungkan tali kasih sayang karena manusia merupakan satu keluarga yang berasal dari nenek moyang yang sama, yaitu Adam dan Hawa.

Di dalam berbagai kitab fiqh, salat didefinisikan sebagai suatu bentuk ibadah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw., dengan rukun dan syarat yang ditentunkan, dalam bentuk ucapan dan perbuatan untuk menyembah Allah Swt., yang dimulai dengan takbiratul ihram serta diakhiri dengan salam.   

Salat bermakna “hubungan” karena menjadi media yang menghubungkan antara hamba dengan Allah swt. Tak hanya itu, salat juga menghubungkan antara manusia dengan alam yang merupakan manifestasi-Nya.

Syaikh al-Akbar Muhyiddin Ibn Arabi, seorang sufi agung kelahiran Murcia, Andalusia menulis makna salat dengan sangat memikat. Di dalam kitab Fushusul Hikam (halaman 224), beliau menjelaskan bahwa salat menggambarkan gerakan kosmik yang melambangkan gerak alam dari ketiadaan menuju keberadaan. Gerakan di dalam salat terdiri dari tiga kelompok, yaitu: gerakan vertikal, saat sedang berdiri; gerakan horizontal, saat sedang melakukan rukuk; dan gerakan menurun, saat sedang dalam keadaan sujud.

Lebih jauh, Ibnu Arabi menjelaskan, ketiga gerakan salat tersebut menggambarkan bentuk-bentuk utama kehidupan di alam ini. Gerakan vertikal dalam salat melambangkan gerak manusia yang berdiri tegak. Gerakan horizontal melambangkan gerak berbagai hewan yang berjalan dengan posisi tubuh horizontal. Dan gerakan menurun saat bersujud melambangkan gerakan pepohonan, tumbuhan, tanaman dan benda-benda abiotik lainnya.

Dapat ditambahkan, gerakan dinamis dalam salat yang digambarkan dengan gerakan turun dan naik melambangkan gerakan dinamis air, udara, dan api sebagai elemen penting bagi keseimbangan kehidupan di alam ini.

Pada titik ini, penjelasan Ibnu Arabi membantu kita memahami, salat merupakan hubungan antara hamba dengan Allah, pada satu sisi, dan hubungan antara hamba dengan alam, pada sisi yang lain. Dengan kata lain, orang yang melakukan ibadah salat pada hakikatnya sedang melakukan pertemuan dengan Allah sekaligus dengan alam yang merupakan manifestasi dari keberadaan-Nya.

Salat juga menegaskan bahwa manusia memiliki hubungan yang erat dengan keberadaan alam atau lingkungan hidup yang menjadi rumah besar bagi seluruh makhluk hidup, termasuk dirinya. Hubungan erat itu dapat dilihat dari ketergantungan manusia yang sangat tinggi terhadap berbagai sumber daya alam yang menyediakan sumber pangan dan air untuk menopang kehidupannya.  

Dengan demikian, jika salat menegaskan alam begitu penting bagi kehidupan manusia dan seluruh makhluk hidup lainnya, maka salat juga melarang kita untuk melakukan kerusakan di alam ini karena akan menghancurkan keseimbangan kehidupan yang telah dirancang dengan sangat sempurna oleh Allah swt.

Hubungan erat manusia dan berbagai makhluk hidup lainnya dengan alam digambarkan oleh Badiuzzaman Said Nursi, seorang ulama dari Turki, laksana sebuah huruf yang tidak memiliki makna apapun jika tidak dihubungkan dengan huruf-huruf yang lain. “Huruf itu tidak menunjukkan makna pada dirinya sendiri,” ungkap Nursi. Sebuah huruf, baru akan memiliki makna dan dipahami jika dihubungkan dengan huruf-huruf lainnya.

Keberadaan manusia ibarat satu huruf diantara hamparan huruf-huruf lainnya di alam ini. Eksistensi manusia tidak akan memiliki makna apapun jika tidak dihubungkan dengan eksistensi berbagai makhluk lainnya yang terdapat di alam ini.

 

Implikasi Praksis

Melalui makna ekologis yang terkandung di dalamnya, salat seharusnya berhasil mencegah pelakunya dari berbuat kerusakan (al-fasad) di muka bumi. Dalam konteks ini, ayat Alqur’an yang menyebut salat mampu mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan munkar (QS. Al-‘Ankabut [29]: 45), harus dipahami sebagai satu pesan penting bahwa perbuatan keji dan munkar, termasuk berbuat kerusakan sangat terlarang karena bertentangan dengan fitrah manusia dan perintah agama.

Lebih jauh, salat wajib dijadikan spirit perlawanan terhadap berbagai bentuk krisis yang diakibatkan oleh aktivitas manusia, khususnya kebijakan ekonomi dan politik serta pilihan pembangunan yang mengakstraksi dan mengeksploitasi sumber daya alam tanpa batas. Para pelaku salat seyogyanya memiliki pandangan kritis terhadap berbagai kebijakan atau regulasi yang disusun untuk melegitimasi beragam praktik perusakan alam.

Jika salat mengajarkan hubungan yang erat antara manusia dan alam, maka para pelakunya harus melihat bahwa berbagai kerusakan yang terjadi di planet bumi adalah buah dari hancurnya hubungan erat tersebut. Hancurnya hubungan manusia dan alam antara lain terjadi karena manusia hari ini menganut paham antroposentrisme yang melihat dirinya terpisah dari alam dan menganggap manusia sebagai pusat dari alam semesta.

Para pelaku ibadah salat juga wajib melawan paham skeptisisme lingkungan yang melihat berbagai bencana dan krisis lingkungan hidup yang terjadi di planet ini sebagai bagian dari cara alam memulihkan dirinya. Paham ini dikembangkan oleh untuk “membersihkan” dosa ekologis banyak perusahan besar yang terbukti meruskan lingkungan hidup dan mendorong krisis iklim semakin parah. Oleh karena itu, pandangan semacam ini sangat keliru karena memisahkan manusia dan alam sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Dengan demikian, salat bukan hanya ibadah ritual yang yang memiliki pesan sosial, tetapi juga memiliki pesan ekologis, dimana pelakunya wajib terlibat dalam berbagai upaya penyelamatan planet bumi. (*)   

Penulis adalah dosen pada Program Studi Falsafah dan Agama Universitas Paramadina serta pengurus Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018