#

OLEH

DR HARRY IRAWAN JOHARI., M.SI.

Mangrove merupakan asosiasi berbagai spesies pohon, semak, palm, dan paku atau pakis. Pada umumnya terdistribusi pada perairan-perairan dangkal di daerah Tropis, namun beberapa formasi juga ditemukan di Subtropik seperti di Jepang, New Zealand, Amerika Utara, Australia, dan Subekuatorial Afrika. Di Indonesia mangrove tersebar hampir di seluruh pulau, mulai dari Sumatera sampai Irian Jaya (Johari, 2009).

Mangrove tumbuh dengan baik pada daerah pasang surut (zona intertidal), di sepanjang garis pantai berlumpur yang terlindung dari gerakan gelombang, pada pulau-pulau di belakang terumbu karang di lepas pantai terlindung, pada daerah estuaria, muara sungai, daerah payau, atau dalam teluk (Nybakken, 1982; Akshornkoae, 1993). Steenis dalam Kartawinata et al., (1978) menggambarkan mangrove sebagai hutan seragam, yang berkembang dengan sangat baik pada pantai berlumpur di daerah estuaria dan laguna (goba), dengan pohon-pohon yang berbatang lurus dengan tinggi mencapai 35 – 45 m, sedangkan pada pantai berpasir atau terumbu karang tumbuhnya kerdil, jarang, dan dengan batang yang seringkali bengkok.

Berbagai peran dan jasa lingkungan diberikan mangrove seperti konservasi air, mencegah intrusi air laut, mencegah abrasi pantai, mencegah pencemaran pantai, dan berperan sebagai penyedia hara bagi ekosistem laut dan estuaria. Mangrove juga berfungsi sebagai penyimpan karbon, regulasi makroiklim dan mikroiklim, melindungi lahan dan tempat tinggal dari topan dan badai, serta fungsi keanekaragaman hayati dan habitat bagi berbagai spesies langka (Jesus; Santos et al.,  Purwanti et al., dan Hijbeek et al., dalam Johari dkk 2021).

Mangrove mampu menjaga stabilitas substrat garis pantai, dan memiliki peran penting dalam melindungi keberadaan ekosistem teluk, estuaria, padang lamun, karang, dan ekosistem pantai (Perry, 1988; Aksornkoae, 1993). Sistem perakarannya memiliki kemampuan memperlambat arus, sehingga mampu mencegah kerusakan akibat erosi pantai. Dalam keadaan arus yang tidak begitu kuat, memungkinkan terjadinya pengendapan partikel-partikel sedimen. Dengan demikian sistem perakaran mangrove juga berperan sebagai penyangga sedimentasi (Nybakken, 1982; Supriharyono, 2002).

Bowman, Davis dalam Kartawinata et al., (1978) menyatakan bahwa perakaran jenis jenis bakau (mangrove) berfungsi sebagai penahan lumpur, dan karenanya berperan dalam perluasan lahan ke arah laut. Dengan tenunan perakaran rapat, mangrove dapat menjangkar lumpur estuaria, sehingga mendorong pengendapan lumpur. Dengan demikian  mangrove mempercepat dan memantapkan pembentukan dataran (Notohadiprawiro, dalam Johari 2009). Sistem perakaran mangrove juga mampu memarkir air tawar, sehingga dapat mencegah banjir dan intrusi air laut. Berbagai jenis tumbuhan mangrove memiliki kemampuan mengolah limbah, sehingga mampu mencegah pencemaran pantai (Tandjung, dalam Johari 2021).

Sukardjo (1993) menyatakan empat faktor lingkungan yang dibutuhkan oleh mangrove yaitu temperatur, curah hujan, tinggi tempat, dan tanah. Tandjung (2001) menyatakan bahwa persyaratan lingkungan yang diperlukan bagi pertumbuhan mangrove adalah air pasang, salinitas, arus permukaan air laut, dan suhu atau temperatur. Dahuri et al., (2001) menyatakan bahwa parameter lingkungan utama yang mempengaruhi kelangsungan hidup dan pertumbuhan mangrove adalah suplai air tawar dan salinitas, pasokan nutrien atau hara, dan stabilitas substrat. Djohan (2004) menyatakan bahwa stabilitas ekosistem mangrove sangat bergantung pada faktor kekuatan arus, muatan sedimen (sediment load), dan salinitas. Hartono (2002) menyatakan bahwa kriteria potensi lahan untuk konservasi mangrove adalah kemiringan lereng, kondisi tanah (tekstur tanah, bahan organik, dan tingkat keasaman tanah), kondisi air (salinitas, pH, DHL, suhu, dan kadar bahan tersuspensi) kisaran pasang surut air laut, dan iklim (curah hujan) (Johari, 2009).

Mangrove memiliki kemampuan untuk menurunkan kadar garam dalam air secara langsung dan tidak langsung. Proses penurunan kadar garam oleh mangrove secara tidak langsung terjadi melalui proses sedimentasi dan proses penurunan kadar garam secara langsung terjadi melalui proses pemindahkan garam ke bagian tubuh mangrove tertentu. Berbagai jenis tumbuhan mangrove memiliki sifat fitoremediasi yaitu kemampuan untuk mengolah bahan limbah sehingga mampu untuk mencegah pencemaran pantai (Tandjung, 2001). Monk et al., (dalam Johari 2009) menyatakan bahwa mangrove memiliki kemampuan untuk membersihkan perairan pantai khususnya bahan pencemar dan unsur hara.

Sistem perakaran mangrove sangat khas, memungkinkan untuk terjadinya sedimentasi. Proses sedimentasi ini menyebabkan permukaan tanah menjadi lebih tinggi sehingga menyebabkan terhalangnya air laut masuk ke darat. Berkurangnya pengaruh pasang surut air laut ke darat pada akhirnya akan menurunkan kadar garam dalam air. Air darat yang pada mulanya menjadi asin karena bercampur air laut, dengan adanya mangrove dapat tetap menjadi air tawar. Proses penurunan kadar garam oleh mangrove dapat juga terjadi secara langsung, yaitu melalui proses pemindahkan ke bagian tubuh tertentu. Dalam proses ini mangrove berfungsi sebagai filter air asin menjadi air tawar. Sistem perakaran mangrove memiliki kemampuan untuk memindahkan kadar garam dengan cara menyimpannya dalam daun. Semakin tua umur daun semakin tinggi kadar garamnya (Johari, 2009).

Mangrove dapat mencegah erosi/aberasi pantai 1 hingga 5 meter. Hutan mangrove memiliki vegetasi dengan sistem perakaran khas, berbentuk jejaring akar yang rapat dan kuat. Sistem perakaran tersebut selain kokoh juga mampu untuk memecah gelombang dan arus laut secara alami. Pecahnya gelombang dan arus tersebut membuat tekanan air laut menjadi berkurang. Sistem perakaran tersebut kemudian menjadi benteng pelindung pantai yang memperkuat ketahanan alami terhadap erosi/aberasi. Hasil penelitian yang dilakukan Johari, (2009) menetapkan besarnya manfaat mangrove untuk pelindung dari erosi/aberasi pantai diperkirakan nilainya Rp 8.862.000 /ha/th. (Johari, dkk, 2022).

Bentuk perakaran khusus mangrove yang menghujam ke dalam lumpur pantai mampu membentuk dinding-dinding vegetasi yang dapat menampung seresah dan lumpur. Dengan bentuk perakarannya yang rapat seperti jaring, vegetasi mangrove dapat menangkap endapan lumpur dan berbagai partikel-partikel lain yang terbawa oleh pasang surut maupun aliran sungai, sehingga terhalang masuk langsung ke laut. Berbagai partikel-partikel tersebut, jika berbentuk organik akan dimanfaatkan oleh berbagai jenis organisme yang ada. Sedangkan partikel-partikel yang nonorganik akan menjadi sampah yang dapat membunuh mangrove (Johari, 2009).

Mastaller (dalam Johari, 2009) menyatakan bahwa konsekuensi yang diakibatkan oleh perusakan mangrove antara lain meningkatnya mobilitas sedimen, menurunnya kualitas air pada ekosistem muara, turunnya stok ikan, serta kemunduran kualitas ekosistem yang berdekatan misalnya ekosistem padang lamun. Beberapa dampak lain dari deforestasi mangrove adalah pengubahan rezim hara dan resultante komunitas produsen primer (Ólafsson et al., 2002)

 

DAFTAR PUSTAKA

Aksornkoae, S., 1993. Ecology and Management of Mangrove. IUCN Wetland Program, IUCN, Bangkok. Thailand.

Dahuri,H.R., Rais, J., Ginting S.P., dan M.J., Sitepu, 2001. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Cetakan Kedua Edisi Revisi. Pradnya Paramita. Jakarta.

Djohan, T.S., 2004. Ekologi Lahan Basah. Materi Kuliah Ekologi Lahan Basah Program Pascasarjana S-3 Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Tidak dipublikasikan

Hartono, 2002. Materi Kuliah Sistem Informasi Lingkungan. Magister Pengelolaan Lingkungan. Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Tidak Dipublikasikan

Johari, H.I., 2009., Model Pengelolaan Lingkungan Alokasi Pemanfaatan Mangrove untuk Tambak, di Kabupaten Lombok Timur Bagian Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Disertasi S-3 Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Tidak Dipublikasikan.

Johari., H.I., dkk, 2021., Valuation of Mangrove Direct Benefit in Jerowaru District, East Lombok 30 Regency, West Nusa Tenggara. ECSOFiM: Economic and Social of Fisheries and Marine Journal. 09 (01): 30-44 http://ecsofim.ub.ac.id/ http://dx.doi.org/10.21776/ub.ecsofim.2021.009.01.03

Johari., H.I., dkk., 2022, Valuasi Manfaat Tidak Langsung Mangrove Di Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. GEOGRAPHY: Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan. Volume 10, No 1, Bulan April, Tahun 2022. http://journal.ummat.ac.id/index.php/geography/article/view /4276

Kartawinata, K., Adisoemarto, S., Soemodihardjo, S., dan I.G.M. Tantra., 1978. Status Pengetahuan Hutan Bakau di Indonesia. Makalah Seminar Ekosistem Hutan Mangrove I, Jakarta.

Nybakken, J.W.,1982. Marine Biology: An Ecological Approach. Harper & Row, Publishers. New York.

Ólapsson, E., Buchmayer, S., dan M.W., Skov., 2002. The East African Decapods Crabs Neosarmatium Meinerti (De Man) Sweeps Mangrove Floors Clean of Leaf Litter. Ambio 31: 569-573.

Perry, D.M., 1988. Effect of Associated Fauna on Growth and Productivity of Red Mangrove. Ecology 69: 1064-1075.

Sukardjo, 1993. Perilaku Ekosistem Mangrove dan Usaha Konservasi di Indonesia. Makalah dalam Prosiding Seminar Nasional Rehabilitasi Kawasan Mangrove. Instiper, Yogyakarta.

Supriharyono, 2002. Pelestarian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Tandjung, S.D., 2001. Dasar-dasar Ekologi. Bahan Kursus AMDAL Tipe A. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada dan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan, Yogyakarta.

Artikel Terkait

Lihat Selengkapnya

Komentar

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018