#

Kota Bekasi—lingkunganmu.com--Setiap hari di rumah kita selalu ada sisa makanan seperti nasi, sayur matang, lauk pauk, buah-buahan, roti/jajanan, sayuran mentah, bumbu dapur, kulit buah, jerohan ikan/ayam dan lain-lain.

Sisa-sisa makanan tersebut bila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan bau yang menyengat, mendatangkan lalat, tikus, kucing yang selalu memberantakannya. Sehingga rumah menjadi tidak sehat gara-gara sampah makanan organik dapur.

Sampai saat ini, masih sedikit yang tertarik untuk mengelola sampah sisa makanan organik dapur ini terutama di lingkungan perkotaan sehingga hal ini menimbulkan tumpukan sampah baik di TPS/TPA yang menggunung, bau dan mendatangkan jutaan lalat yang tidak menyehatkan.

Untuk itulah, Hidayat Tri Sutardjo, Divisi Humas dan Kerjasama Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah didampingi dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam “45” Bekasi mengadakan Observasi dan Studi Lapang ke Joglo Edu Center di Jatiasih Kota Bekasi pada 17 Juli 2021.

Adalah Mulyanto Diharjo, seorang alumni PTN jurusan biologi lingkungan, telah berhasil menggerakkan warga se-RW tepatnya di RT 002/RW 012 Kecamatan Jatiasih Kota Bekasi. Sejak tahun 2009 beliau mengedukasi warganya untuk mengelola sampah organik dapur secara perlahan-lahan. Untuk itulah kemudian Mulyanto bersama warganya mendirikan Bank Sampah sebagai lembaga yang akan mengelola sampah terutama sampah organik dapur karena warga berkesimpulan bahwa untuk sampah anorganik serahkan saja ke pemulung.

Menurut Mulyanto, “Sampah organik dapur dari rumah tangga jangan dicampur dengan sampah anorganik seperti plastik, pembalut dan lain-lainnya. Sumber sampah ini harus dari sisa makanan yang bergizi dan bersih sehingga dapat dimanfaatkan untuk budidaya manggot BSF dengan baik demi mencegah terjadinya masalah besar dan kompleks terkait dengan penanganan sampah”.

Lebih lanjut Mulyanto menandaskan bahwa “BSF itu mengandung zat antibiotik alami sehingga tidak membawa agen penyakit, walau dikelompokkan ke dalam keluarga lalat, BSF tidak hinggap di sampah dan tidak membawa penyakit”.

Larva BSF yang disebut maggot ini berbeda dengan belatung lalat hijau dan lalat hitam yang menyebarkan penyakit. Maggot tidak menimbulkan bau busuk dan bukan pembawa sumber penyakit. Maggot BSF merupakan inovasi yang menggembirakan dan menguntungkan bagi para peternak, petani, dan masyarakat secara luas. Maggot BSF bisa dimanfaatkan sebagai pakan ikan dan ternak unggas. Maggot BSF ini juga bisa membantu permasalahan sampah organik yang menggunung. Sekitar 750 kg maggot BSF mampu mengurai sekitar 2 ton sampah organik hanya dalam kurun waktu 2-3 minggu.

Budidaya maggot cukup mudah dan murah karena tidak memerlukan teknologi yang canggih dan tidak memakan banyak biaya. Selain itu, Maggot memiliki manfaat sebagai pakan ikan karena memiliki banyak protein. Tanpa manggot, biaya pakan ikan akan melonjak berlipat-lipat, dari keseluruhan biaya yang dikeluarkan dalam satu kali pemeliharaan ikan atau ternak hingga panen, pakan menyedot biaya hingga 70 persen. Sebab itu, peternak kerap rugi jika seluruh kebutuhan pakan dicukupi dengan pakan buatan pabrikan.

Maggot adalah alternatif menciptakan pakan murah di tengah harga pakan pabrikan yang semakin tak terjangkau peternak. Kandungan protein dan mineral yang tinggi juga menjadi jaminan ternak cepat besar dan bisa memangkas waktu panen, bisa menghemat biaya pakan sampai 60 persen.

Maggot juga bermanfaat agar sampah organik yang dihasilkan rumah tangga bisa berdaya guna. Seluruh sisa makanan atau sayur dan buah-buahan dimanfaatkan untuk memberi makan maggot. Pendek kata, dengan budidaya maggot, sisa makanan bukanlah sampah. Bahan yang semula tak bernilai ini dihasilkan ratusan ribu maggot yang siap digunakan sebagai pakan ternak (ddp).

Artikel Terkait

Lihat Selengkapnya

Komentar

© Majelis Linkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2018